Selamat Membaca

Pahami dan resapi setiap langkah yang kau ikuti.

Selamat Menanam

Tanamkan kebaikan dikehidupanmu.

Selamat Menabur

Taburkan ilmu yang kau punya bagi setiap orang.

Selamat Tumbuh

Tumbuhlah menjadi seseorang yang berguna bagi orang terdekatmu.

Selamat Berkembang

Kembangkan ilmumu untuk kebaikan bagi setiap orang.

Tampilkan postingan dengan label Wisata Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Bali. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Mei 2012

Kintamani, Bangli


Kintamani adalah salah satu objek wisata dengan view pegunungan terindah yang ada di Bali. Kintamani terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani Kabupaten Daerah Tingkat II Bangli. Obyek Wisata Kawasan Batur berada pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut dengan suhu udaranya berhawa sejuk pada siang ahri dan dingin pada malam hari. Untuk mencapai lokasi ini dari Ibu Kota Bangli jaraknya 23 km.


Objek ini dapat anda tempuh dengan menggunakan sepeda motor, mobil maupun bersepeda. Selain Gunung Batur, dikawasan Kitamani juga terdapat sebuah danau yang bernama Danau batur yang sangat indah. Nama obyek wisata kawasan Batur disesuaikan dengan potensi yang ada yaitu Gunung Batur dan Danau Batur. Nama Pura Batur berasal dari nama Gunung Batur yang merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan di emong oleh Warga Desa Batur. Sebelum meletusnya Gunung Batur pada tahun 1917, Pura Batur berada di kaki sebelah Barat Daya Gunung Batur. Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh letusan Gunung Batur ini, maka Pura bersama warga desa Batur dipindahkan di tempat sekarang. Sisa-sisa lahar yang membeku berwarna hitam, Gunung Batur tegak menjulang, Danau Batur teduh membiru, merupakan suatu daya tarik bagi setiap pengunjung.

Gunung Batur memiliki tinggi yaitu 1717 meter dari permukaan laut yang mana sangat mudah untuk anda daki. Disamping itu, disini anda dapat menikmati indahnya suasana puncak yang sejuk disertai indahnya matahari terbit yang datang dari sisi balik gunung abang.

Potensi wisata kawasan ini adalah pemandangan kawasan pegunungan yang sangat unik dan menakjubkan. Setelah kira-kira 2 jam perjalanan dari Kota Denpasar, kita akan sampai di kawasan ini, tepatnya di tempat yang disebut Penelokan, yang sesuai dengan namanya dalam bahasa Bali yang berarti tempat untuk melihat-lihat merupakan lokasi yang paling strategis untuk menikmati pemandangan alam di kawasan wisata ini. Penelokan terletak di Kedisan, salah satu desa di Kec. Kintamani.

Dari Penelokan kita bisa menyaksikan pemandangan menakjubkan. kombinasi antara Gunung Batur beserta hamparan bebatuan hitam dengan Danau Batur yang berbentuk bulan sabit berwarna biru di sebuah kaldera yang oleh wisatawan-wisatawan dikatakan sebagai kaldera terindah di dunia. Penelokan sudah mempunyai infrastruktur yang cukup memadai sebagai tempat wisata, antara lain penginapan maupun restoran.

Dari Penelokan kita mempunyai dua alternatif untuk melanjutkan perjalanan di Kintamani. pertama kita bisa melanjutkan ke arah utara menuju Desa Batur. Di desa ini kita bisa berkunjung ke salah satu pura kahyangan jagat di Bali yang bernama Pura Batur. pura ini pada awalnya terletak di sebelah barat daya Gunung batur yang kemudian dipindahkan bersamaan dengan pindahnya warga desa ke bagian atas.

Alternatif kedua kita bisa turun ke pusat Desa Kedisan untuk selanjutnya menyeberang melintasi danau ke sebuah desa tua yang bernama Terunyan. Di Desa Terunyan kita bisa melihat peradaban Bali kuno yang disebut Bali Aga. di desa ini orang-orang yang sudah meninggal tidak dikubur tetapi diletakan begitu saja di bawah sebuah pohon. Mayat-mayat ini tidak mengeluarkan bau sama sekali.

Sejarah Kintamani

Sumber-sumber yang menyebutkan tentang Danau Batur adalah Lontar Kesmu Dewa. Lontar Usana Bali dan Lontar Raja Purana Batur. Disebutkan bahwa Pura Batur sudah ada sejak zaman Empu Kuturan, yaitu abad ke-10 sampai permulaan abad ke-11. Luasnya areal dan banyaknya pelinggih-pelinggih maka diperkirakan bahwa Pura Batur adalah penyiwi raja-raja yang berkuasa di Bali, sekaligus merupakan Kahyangan Jagat. Di Pura Batur yang diistanakan adalah Dewi Danu yang disebutkan dalam Lontar Usana Bali yang terjemahannya sebagai berikut:
Adalah ceritera, terjadi pada bulan Marga Sari (bulan ke V) waktu Kresna Paksa (Tilem) tersebutlah Betara Pasupati di India sedang memindahkan Puncak Gunung Maha Meru dibagi menjadi dua, dipegang dengan tangan kiri dan kanan lalu dibawa ke Bali digunakan sebagai sthana Putra beliau yaitu Betara Putrajaya (Hyang Maha Dewa) dan puncak gunung yang dibawa tangan kiri menjadi Gunung Batur sebagai sthana Betari Danuh, keduanya itulah sebagai ulunya Pulau Bali. Kedua Gunung ini merupakan lambang unsur Purusa dan Pradana dari Sang Hyang Widhi. Pura Batur merupakan tempat Pemujaan Umat Hindu di seluruh Bali khususnya Bali Tengah, Utara dan Timur memohon keselamatan di bidang persawahan. Sehingga pada saat puja wali yang jatuh pada Purnamaning ke X (kedasa) seluruh umat terutama pada semua kelian subak, sedahan-sedahan datang ke Pura Batur menghaturkan "Suwinih". Demikian kalau terjadi bencana hama.

Kamis, 05 April 2012

Kebun Raya


1. Sejarah Kebun Raya

Kebun Raya Bali memiliki luas awal 50 ha dan kini sudah mencapai 157,5 ha. Pencetus ide pendirian kebun raya ini adalah Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo ( Direktur Pusat Penyelidikan Alam) dan I Made Taman (Kepala Lembaga Pelestarian dan Pengawetan Alam). Lokasi yang dipilih adalah hutan reboisasi Candikuning seluas 50 ha. Kemudian pada tahun 1959 tepatnya di tanggal 15 Juli kebun raya ini diresmikan. Nama Kebun Raya Eka Karya sendiri di usulkan oleh I Made Taman. Koleksi pertama di datangkan dari Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas.


Kawasan Kebun Raya ini merupakan salah satu tujuan khusus sebagai hutan pendidikan dan penelitian bagi kebun Raya Eka Karya Bali.

Taman Anggrek Eka Karya merupakan bagian dari Kebun Raya Eka Karya Bali terletak di samping Gedung Kantor utama, jaraknya kurang lebih 800 meter dari Gerbang masuk.

Koleksi anggrek ditata dalam sebuah taman seluas 0,5 ha dan terbagi dalam dua wilayah Taman Anggrek bagian bawah merupakan daerah terbuka sebagai tempat untuk koleksi anggrek silangan, sedangkan Taman Anggrek bagian atas merupakan tempat bagi anggrek liar yang merupakan prioritas koleksi karena besarnya manfaat dalam penelitian dan upaya pelestariannya. Pembangunan taman anggrek ini mulai dirintis di bawah kepemimpinan Drs. Sukendar (1979 – 1980). Anggrek yang di koleksi disini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur, antara lain Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Lebih dari 293 jenis anggrek telah menjadi koleksi Kebun Raya Bali.

Beberapa koleksi penting taman anggrek Kebun Raya Eka Karya Bali antara lain Vanda tricolor, Paphiopedilum javanicum (salah satu anggrek langka), Malleola baliensis dan Calanthe baliensis (anggrek endemik bali). Umumnya musim berbunga anggrek disini adalah bulan Maret hingga Juni, namun karena banyaknya koleksi selalu ada saja anggrek yang berbunga di bulan lainnya.

2. Deskripsi Kebun Raya

Berada di ketinggian 1.250-1.450 m di atas permukaan air laut, membuat kebun raya eka karya bali (bali botanic garden) menjadi kawasan sejuk. Suhu di sini berkisar 18-20 derajat celcius atau bahkan lebih rendah pada hari-hari tertentu. Karena itu, kebun raya Bali bisa menjadi pilihan diantara tempat wisata lain di bali. Objek wisata ini tepat untuk acara keluarga ataupun perusahaan
Lokasi kebun raya Bali tidak jauh dari kawasan wisata bedugul dan berbatasan langsung dengan cagar alam batukaru. Dari Denpasar kebun raya ini dapat dicapai dalam waktu sekitar 1,5 jam. Tempat yang hanya berjarak 50 km dari Denpasar ini terkenal dengan panorama alamnya yang indah.
Pintu masuk kebun raya berupa candi bentar (gapura khas Bali) yang selesai di bangun pada 1985. Dua pintu besarnya yang di sebut kori agung dapat ditutup dalam pandangan spiritual, untuk mencegah kekuatan jahat yang ingin memasuki tempat-tempat suci. Di tengah jalan utama terdapat dua patung, yakni patung rahwana-jatayu dan kumbakarna laga. Kedua patung besar dengan detail menarik itu tampak gagah menyambut pengunjung dengan latar belakang bukit tapak yang hijau dan sering tertupi kabut di bagian puncaknya.

Sabtu, 21 Januari 2012

Tanah Lot


Sejarah Tanah Lot

Pada masa Kerajaan Majapahit ada seseorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirarta.Beliau dikenal sebagai Tokoh penyebaran ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra “.Di Lombok beliau dikenal dengan nama “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru (sebuah nama Gunung di Jawa Timur).


Pada waktu beliau datang ke Bali untuk menjalankan misinya,yang berkuasa di Bali saat itu adalah Raja Dalem Waturenggong yang menyambut beliau dengan sangat hormat.Beliau menyebarkan agama Hindu sampai ke pelosok-pelosok Pulau Bali. Suatu ketika pada saat beliau menjalankan tugasnya,beliau melihat sinar suci dari arah tenggara dan beliau mengikutinya sampai pada sumbernya yang ternyata adalah sebuah sumber mata air. Tidak jauh dari tempat itu beliau menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang disebut “Gili Beo”(Gili artinya Batu Karang dan Beo artinya Burung) jadi tempat itu adalah sebuah Batu Karang yang berbentuk burung. Ditempat inilah beliau melakukan meditasi dan pemujaan terhadap Dewa Penguasa Laut.
Lokasi tempat Batu Karang ini termasuk dalam daerah Desa Beraban,dimana di desa tersebut dikepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “Bendesa Beraban Sakti”.Sebelumnya masyarakat Desa Beraban menganut ajaran monotheisme (percaya dan bersandar hanya pada satu orang pemimpin yang menjadi utusan Tuhan sperti Nabi) dalam waktu yang singkat banyak masyarakat Desa Beraban ini mengikuti ajaran Dang Hyang Nirarta yang kemudian membuat Bendesa Beraban Sakti sangat marah dan mengajak pengikutnya yang masih setia untuk mengusir Bhagawan suci ini. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki Dhang Hyang Nirarta, beliau melindungi diri dari serangan Bendesa Baraban dengan memindahkan batu karang besar tempat beliau bermeditasi (Gili Beo) ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batu karang sebagai pelindung dan penjaga tempat tersebut. Kemudian beliau memberi nama tempat itu “Tanah Lot” yang berarti Tanah di tengah Laut.
Akhirnya Bendesa Beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spiritual dari Dang Hyang Nirarta, dan akhirnya Bendesa Beraban menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran Agama Hindu kepada penduduk setempat.Sebagai tanda terima kasih sebelum melanjutkan perjalanan beliau memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban yang dikenal dengan nama “Keris Jaramenara atau Keris Ki Baru Gajah”. Saat ini keris itu disimpan di Puri Kediri yang sangat dikeramatkan dan di upacarai setiap hari raya Kuningan. Dan upacara tersebut diadakan di Pura Tanah Lot setiap 210 hari sekali, yakni pada “Buda Wage Lengkir” sesuai dengan penanggalan Kalender Bali.
 
Deskripsi Tanah Lot

Tanah Lot merupakan obyek wisata yang sangat terkenal, hampir setiap wisatawan yang liburan ke Bali pasti menyempatkan diri menikmati obyek wisata ini. Tanah Lot terletak di desa Beraban, kecamatan Kediri, kabupaten Tabanan, di barat daya pulau Bali, kira-kira 30 menit dari Kuta. Di Tanah Lot terdapat dua pura, Pura Tanah Lot yang terletak diatas sebuah batu karang besar yang berada di tengah pantai. Di sebelahnya terdapat satu pura lagi yang terletak diatas tebing yang menjorok ke laut. Pura Tanah Lot termasuk pura Sad Kahyangan yaitu pura-pura yang menjadi sendi untuk menjaga keasrian dan keselamatan pulau Bali.
Menurut legenda, pura Tanah Lot dibangun oleh seorang Brahmana suci yang bernama Danghyang Nirartha atau disebut juga Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Danghyang Dwijendra pada abad ke 16, beliau datang ke Bali untuk menyebarkan dan menguatkan ajaran agama Hindu. Danghyang Nirartha juga meninggalkan selendangnya yang menjadi sebuah ular penjaga pura Tanah Lot. Ular ini masih ada sampai sekarang dan dipercaya dapat memberikan keselamatan dan mengabulkan doa orang yang menyentuhnya. Selain pura Tanah Lot, ada beberapa pura Sad Kahyangan lain yang dibangun oleh Danghyang Nirartha selama pengembaraannya di Bali, misalnya Pura Petitenget, Pura Uluwatu dan lainnya. Dipercaya Danghyang Nirartha akhirnya “Moksa” (meninggal tanpa jasad) di Pura Uluwatu.
Selain terdapat ular yang hingga saat ini masih menjadi kepercayaan penduduk setempat, hal fenomenal lainnya adalah terdapat sumber air tawar di sisi utara Pura Tanah Lot padahal Pura ini terletak di atas pantai. Air suci ini disebut Tirta Pabersihan, banyak umat dan pengunjung yang menggunakan air ini untuk penyucian secara niskala.
Tanah Lot terkenal dengan pemandangannya yang indah, bila cuaca baik, kita dapat melihat matahari tenggelam (sunset) yang sangat indah, ketika sang Surya tenggelam di kaki cakrawala, sungguh pemandangan yang dapat membuat mata berhenti berkedip. Dijalan menuju pantai Tanah Lot banyak dijumpai penunjang pariwisata seperti hotel, restaurant, art shop, dan lainnya. Waktu yang baik untuk berkunjung kesana adalah pukul 16.00, jadi kita dapat melihat-lihat pemandangan dengan tebing yang curam, pura Tanah Lot yang mengagumkan, dan pemandangan pantai sambil menunggu sunset. Pada bulan-bulan ini, sunset biasanya terjadi sekitar pukul 18:30.
Seperti pura lainnya, pura Tanah Lot juga memiliki odalan (hari raya) yang dirayakan setiap 210 hari sekali, yaitu setiap “Buda Cemeng Langkir”, berdekatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan. Pada saat odalan, seluruh umat Hindu dari segala penjuru Bali akan datang untuk bersembahyang, begitu juga wisatawan akan banyak yang datang untuk menyaksikan upacara dan keindahan Tanah Lot, akan tetapi wisatawan tidak diijinkan untuk memasuki bagian utama (“Utama Mandala”) pura Tanah Lot, kecuali yang masuk untuk bersembahyang. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kesucian pura Tanah.

Pantai Kedungu


Indahnya pantai di Bali sudah terkenal di manca negara. Dari sekian banyak pantai tersebut salah satunya adalah Pantai Kedungu yang berada di Banjar Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, sekitar 12 km dari kota Tabanan.


Pantai Kedungu merupakan salah satu objek wisata bahari dengan panorama terindah di Bali bagian tengah yaitu Kabupaten Tabanan. Indahnya panorama alam di Pantai Kedungu Tabanan Bali ini membuatnya ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun manca negara. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan disini, seperti olah raga pantai dan menikmati deburan ombak Pantai Kedungu dengan bersurfing. Tidak sedikit juga wisatawan asing yang berjemur dan bersantai di objek wisata ini. Pantai Kedungu memiliki hamparan pasir yang lembut dan dikelilingi oleh pemandangan persawahan yang hijau. Hal ini lah yang membuat panorama di Pantai Kedungu terlihat sangat indah.
Di Pantai Kedungu anda akan melihat indahnya deburan ombak di hamparan pasir lembut yang landai, anda juga dapat menikmati pemandangan tebing yang memiliki air terjun kecil dan dibawahnya terdapat tumpukan bebatuan besar yang indah. Dengan ombaknya yang indah, besar dan menantang banyak wisatawan asing datang kesini untuk bermain selancar atau surfing, sedangkan wisatawan lokal ramai mengunjungi pantai ini pada akhir pekan atau saat liburan. Kegiatan yang bisa dilakukankan di pantai ini antara lain, bersantai dan berjemur.
Air yang turun tersebut berasal dari persawahan yang ada di atasnya. Jangan takut, air tersebut tidaklah kotor, sentuhlah untuk dapat merasakan kesejukan alamnya. Sehingga saat melihat tebing tersebut kita dapat menikmati suasana alam, yang jarang ditemukan di objek wisata pantai lainnya. Tatanan tempat parkir yang sejuk dengan pepohonan akan membuat kendaraan anda terlindungi dan nyaman. Menikmati suasana pantai dengan makanan khas Bali tentunya akan menambah suasana menjadi lebih nikmat, anda dapat menemukannya di warung-warung sederhana yang berjejer di sepanjang tepi pantai. Di sini juga telah dibangun beberapa villa untuk anda yang ingi bermalam sambil menikmati indahnya matahari terbenam di objek wisata Pantai Kedungu.
Pantai Kedungu berpasir hitam. Pantai ini sangat landai dengan latar belakang pemandangan persawahan hijau yang luas membentang. Saat sore hari pengunjung yang datang ke pantai ini dapat menyaksikan pesona alam saat matahari terbenam keperaduan (Sunset).
Untuk mendukung sektor kepariwisataan di Kabupaten Tabanan pada tahun 1998 Pantai Kedungu dicanangkan sebagai salah satu objek wisata berdasarkan Surat Keputusan Bupati Tabanan.Sejak diperkenalkan kepada masyarakat, kunjungan wisata ke pantai ini mulai meningkat. Awalnya hanya wisatawan lokal, dalam perkembangannya banyak wisatawan asing yang datang untuk menikmati keindahan pantai Kedungu ini.
Masyarakat sekitar pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan, namun saat ini ada juga yang berprofesi sebagai pedagang dan karyawan. Seiring perkembangan kepariwisataan di Pantai Kedungu ini terdapat area parkir dan warung-warung makanan dan minuman.
Jarak tempuh ke lokasi ini kira-kira 32 km dari kota Denpasar dan lebih kurang 1 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai Bali bila menggunakan kendaraan bermotor. Bila anda berkunjung ke Bali, Pantai Kedungu bisa dijadikan salah satu tujuan wisata anda.